Customer service

Selamat datang di toko kami

Onlineapotekpbf merupakan supplier obat murah yang sudah berpengalaman. Kami juga merupakan supplier obat murah yang terpercaya dan memiliki koneksi banyak perusahaan farmasi yang ada di indonesia. jika anda membutuhkan suply dari kami hubungi kami supplier obat murah. Kami siap melayani anda dengan baik. Terimakasih

Senin, 10 Februari 2014

sebaran toko obat dan pedagang besar farmasi

Toko Obat juga mengalami perkembangan yang cukup pesat, walaupun banyak yang sudah mulai beralih izin menjadi Apotek.
Sebagai bagian dari sistem distribusi obat, Toko Obat memiliki fungsi yang strategis dalam upaya pemerataan ketersediaan obat agar obat mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat sesuai dengan salah satu kebijakan nasional di bidang obat.
Pembinaan dan pengawasan mutlak dilakukan dalam upaya mencegah terjadinya penyalahgunaan dan kesalahan dalam penggunaan obat. Jumlah sarana Toko Obat di Indonesia pada tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar.
Gambar 10
Dari grafik tersebut diketahui bahwa Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah Toko Obat terbanyak baik pada tahun 2011. Sementara di Pulau Sumatera, Toko Obat paling banyak terdapat di Provinsi Sumatera Utara diikuti dengan Aceh, Riau, dan Sumatera Barat. Untuk wilayah Indonesia bagian timur terlihat bahwa sebaran Toko Obat terbanyak terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan sehingga disimpulkan bahwa secara keseluruhan peluang untuk meningkatkan jumlah sarana
DETAIL ORDER

sebaran apotek dan pedagang besar farmasi

Apotek merupakan sarana distribusi yang dalam menjalankan fungsinya bersifat dwifungsi yaitu fungsi ekonomi dan sosial. Fungsi ekonomi menuntut agar apotek memperoleh laba untuk menjaga kelangsungan usaha sedangkan fungsi sosial adalah untuk pemerataan distribusi dan sebagai salah satu tempat pelayanan informasi obat kepada masyarakat.
Orientasi pelayanan kefarmasian di apotek saat ini telah bergeser, semula hanya berorientasi pada pelayanan produk (product-oriented) menjadi pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (patient-oriented).
Jumlah apotek di Indonesia yang meningkat dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar.
Gambar 9
DETAIL ORDER

sebaran pedagang besar farmasi

Cakupan sarana di bidang distribusi seperti Pedagang Besar Farmasi yang mempunyai peran sebagai distributor sudah banyak berkembang di Indonesia. Pedagang Besar Farmasi memegang peranan penting dalam upaya menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dan bahan obat untuk pelayanan kesehatan dan melindungi masyarakat dari bahay penggunaan obat atau bahan obat yang tidak tepat dan/atau tidak memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan.
Perkembangan jumlah sarana PBF di Indonesia pada tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar yang menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah PBF yang paling banyak terutama bila dibandingkan dengan daerah lain di Pulau Jawa (DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta).
Gambar 8

Hal ini dimungkinkan oleh karena Provinsi Jawa Barat merupakan pangsa pasar obat yang sangat baik dan menjanjikan.
DETAIL ORDER

distribusi pedagang besar farmasi

Dalam rangka meningkatkan cakupan sarana pelayanan kesehatan terutama terkait ketersediaan sarana distribusi bidang kefarmasian dan alat kesehatan terdapat beberapa cara salah satunya dengan melihat jumlah sarana distribusi bidang kefarmasian dan alat kesehatan.
Sarana distribusi tersebut mencakup Pedagang Besar Farmasi, Apotek, Toko Obat, Penyalur Alat Kesehatan dan Sub Penyalur Alat Kesehatan yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia pada periode tahun 2011.
Image

Pada gambar dapat dilihat persentase jumlah masing-masing sarana distribusi di bidang kefarmasian dan alat kesehatan yang diuraikan sebagai berikut:
1) sarana distribusi paling dominan adalah Apotek sebagai retailer yang menguasai 53% dari total sarana, diikuti oleh Toko Obat yakni sebesar 26%;
2) sarana PBF sebagai distributor besar/wholesaler memegang 8% dari pasar nasional;
3) sarana Cabang Penyalur Alat Kesehatan (Cab PAK) merupakan sarana yang sebarannya memiliki jumlah terkecil yakni sebesar 1%.
Hal ini menunjukkan bahwa perspektif dunia usaha masih dominan memilih Apotek sebagai jenis sarana distribusi utama yang dikembangkan.
Kenyataan ini didukung oleh beberapa grup perusahaan besar yang bergerak di bidang farmasi mulai banyak mendirikan apotek sebagai mitra usaha dengan sistem konsinyasi/waralaba yang lebih dikenal dengan sistem franchise yang mulai banyak mengakuisisi Apotek konvensional.
DETAIL ORDER

sebaran bisnis apotek dan pedagang besar farmasi

Perkembangan jumlah dan jenis produk yang diproduksi oleh Industri Farmasi dalam negeri serta kebijakan Pemerintah yang kondusif telah mendorong sarana industri farmasi Indonesia hingga menjadi salah satu industri yang berkembang cukup pesat dengan jumlah konsumen yang terus bertambah.
Tercatat bahwa di Indonesia terdapat 24 Provinsi yang belum memiliki sarana industri farmasi antara lain Provinsi Aceh, Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.
Sementara jumlah industri farmasi di Indonesia pada tahun 2009 –2011 yang hanya tersebar di 9 provinsi dapat dilihat pada Gambar 26, dimana Provinsi Jawa Barat memiliki jumlah industri farmasi terbanyak diikuti oleh Provinsi Jawa Timur dan DKI Jakarta.
Gambar 2
Kenyataan bahwa jumlah industri farmasi di wilayah Indonesia bagian barat lebih besar dibanding wilayah Indonesia bagian timur, ini dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan industri farmasi di Indonesia bagian timur dalam rangka pemerataan sarana tersebut di seluruh Indonesia. Keberadaan industri farmasi yang banyak tersebar di wilayah Indonesia bagian barat ini juga salah satu sebab dari mahalnya harga obat di bagian timur akibat tingginya biaya distribusi.
Faktor keamanan, kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan keadaan ekonomi masyarakat di wilayah timur Indonesia juga harus ditingkatkan untuk mendukung upaya tersebut. Hal ini penting untuk membuka akses masyarakat terhadap sarana pelayanan kesehatan khususnya bidang kefarmasian dan alat kesehatan.
DETAIL ORDER

kalbe pilar pedagang besar farmasi dan apotek

Kalbe Farma mempunyai tiga divisi, yakni farmasi, makanan kesehatan, dan kemasan. Farmasi boleh dibilang merupakan bisnis inti Kalbe, karena menyumbang lebih dari 70% ke pendapatan perse­roan. Di bisnis ini Kalbe memiliki empat anak usaha: PT Finusol Prima, PT Bifarma Adiluhung, Innogene Kalbiotech Pte. Ltd., dan PT Dankos Laboratories. Dankos, yang juga berstatus perusahaan publik, telah memiliki tiga anak usaha, yakni PTHexpharm Jaya Laboratories, PT Bintang Toedjoe, dan PT Saka Farma Laboratories. Untuk makanan kesehatan, yang memberikan kontribusi 20% terha­dap pendapatan perseroan, ditangani oleh PT Helios Arya Putra dan PT Sanghiang Parkasa. Sementara bisnis kemasan, yang menyumbang sekitar 6%, dikelola lewat PT Igar Jaya Tbk.–yang juga memiliki dua anak usaha: PT Avesta Pack dan PT Indogravure. Ke depan, Kalbe akan terus mengeluarkan produk-produk baru. “Cuma kami akan lebih banyak mengeluarkan produk paten,” ungkap Santoso Oen, direktur produksi PT Kalbe Farma. Selain itu, untuk membenahi proses produksi, Kalbe juga telah menyiapkan anggaran­nya. “Kami akan berinvestasi untuk mesin dan teknologi. Semuanya akan kami update,” lanjut Santoso.
boenjamin_setiawan.jpg
Dr.Boen
Kekuatan:
  1. Inovator dan banyak menghasilkan produk-produk baru.
  2. Produk dan jaringan distribusinya tersedia secara meluas.
  3. Banyak mengembangkan produk berbasis teknologi tinggi.
  4. Ditopang struktur bisnis yang cukup lengkap, yakni memiliki perusahaan distribusi dan jaringan rumah sakit yang mengusung merek Mitra Keluarga dan Mitra International, termasuk sekolah perawat
  5. Menerapkan prinsip-prinsip bisnis modern dan terbuka.
Kelemahan:
Ekspansinya ke noncore-business, seperti ke bisnis property (PT Kalbe Land) dan pendidikan (STIE Kalbe).
Sumber: - IMS April – Juni 2004
- Wawancara dan data sekunder lainnya.
Brief Description
Kalbe Farma Tbk. with NPWP: 01.001.836.4-092.000 is a PMDN company established on 10/09/1966. On 1991 it first issued 10,000,000 total listed shares on the stock exchange. The company is a importer, manufacturer, trader, and their business activity include: veterinary; pharmaceutical. Authorised capital for the company is Rp. 850,000,000,000 and its paid up capital is Rp. 406,080,000,000. The company’s shareholders are Enseval (52.3%), Public (41.6%), and BNI Securities (6.1%). With its head office in Bekasi, its products/services include pharmaceutical products, vitamins. Brands of the company include Pro Cold, Promag, Xonce. Kalbe Farma Tbk. employs around 6,643 staff in 2005.
Financial Analysis
In 2004 total revenue for Kalbe Farma Tbk. was estimated to be Rp.3,413,097 million. This is a 18.13 per cent increase from the previous year where revenue was estimated to be Rp.2,889,209 million.
The company achieved an estimated gross profit of Rp.1,948,118 million and an estimated gross profit Rp.1,623,888 million in 2004 and 2003 respectively. This is an increase of 19.97 per cent. The estimated gross profit before tax as a ratio of turnover for Kalbe Farma Tbk. was 57.08 per cent while the average gross profit before tax as a ratio of turnover for the industry is estimated to be 38.25 per cent. As such the company’s gross profitability ratio to turnover was better than the industry is average.
Cost of goods in 2004 increased by an estimated 15.78 per cent to Rp.1,464,979 million compared to Rp.1,265,321 million the previous year.
With operating expense estimated to have increased from Rp.1,057,553 million in 2001 to Rp.1,214,529 million in 2004, profit before tax for Kalbe Farma Tbk. was estimated to reached Rp.533,948 million and Rp.652,281 million in 2003 and 2004 respectively.
DETAIL ORDER

dexa primadona apotek dan pedagang besar farmasi


Saat ini Dexa adalah rising star dalam industri farmasi na­sional. Didirikan di Palembang pada 1969 oleh seorang apoteker, Rudy Sutikno, mulanya Dexa hanya melayani pasar setempat. Namun, semenjak Dexa dikelola oleh putra sulung Rudy, Ferry A. Sutikno–ia bergabung pada 1993–bisnis Dexa langsung melejit. Ferry adalah alumnus Teknik Kimia ITB, yang juga menyandang gelar master teknik kimia dan MBA dari dua universitas di AS: Universi­tas Washington dan Universitas Pittsburg. Ketika Ferry baru bergabung, Dexa berada di
ferry.jpg
peringkat ke-25 dari 160 perusahaan farmasi nasional. Kini, untuk produk ethicalnya, Dexa telah menempati peringkat ke-2. “Namun, untuk produk farmasi secara keseluruhan, Dexa masih menempati peringkat ke-3 secara nasional,” ungkap Ferry. Di bawah Ferry, pada 1995 Dexa mendirikan perusahaan distri­busi PT Anugrah Argon Medica. Lewat perusahaannya ini, Ferry berhasil memperluas pasar hingga ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Kamboja, dan Vietnam, serta Hong Kong, Yaman, Pakistan, dan Nigeria. Untuk pengembangan usaha, Ferry juga mendirikan pabrik farmasi PT Ferron Par Pharmaceutical di kawasan Cikarang. Dengan strategi diferensiasinya, pabrik ini memproduksi obat untuk segmen menengah-bawah dan menengah-atas. Pada Juli 2004, Dexa memberikan lisensi untuk memproduksi dan mendistribusikan produknya, Glano SR, ke perusahaan farmasi asing, GlaxoSmithKline. Glano SR adalah obat ethical untuk men­gatasi rinitis dan hidung tersumbat. Kemudian Oktober 2004, Dexa juga memberikan lisensi serupa untuk produk obat ethical oral dan injeksi ke perusahaan farmasi asing, PT Alpharma. Kini Dexa memiliki 1.600 karyawan, 200-an item produk obat-obatan ethical, dengan tingkat utilisasi pabrik 75%. “Untuk industri farmasi, tingkat utilisasi itu sudah cukup tinggi karena pabrik harus dibersihkan,” tukas Ferry.
Kekuatan:1. Ferry dikenal amat visioner dan menerapkan prinsip-prinsip bisnis modern di Grup Dexa.2. Subsidi silang antara obat-obatan berharga murah, seperti Dexacab, dengan obat-obatan yang berharga mahal, seperti obat kanker. 3. Memiliki jaringan distribusi sendiri. 4. Diferensiasi produk yang amat beragam.
Kelemahan:
1. Terlalu fokus pada produk obat-obatan ethical dengan range produk yang amat luas.
DETAIL ORDER